Penerjemahan : proses, metode, prosedur, teknik

Penerjemahan bukanlah semata kegiatan menggantikan teks bahasa sumber (TSu) ke dalam teks bahasa sasaran (TSa) melainkan perlu dipandang sebagai suatu tindak komunikasi, bukan sekadar kumpulan kata dan kalimat. Penerjemah perlu melihat penerjemahan dari dua pendekatan, yaitu proses dan produk, serta perlu dibekali dengan perangkat intelektual (kemampuan dalam bahasa sumber dan sasaran, pengetahuan tentang topik terjemahan, penerapan pengetahuan pribadi, serta keterampilan) dan praktis (penggunaan sumber rujukan serta pengenalan konteks langsung maupun tak langsung).
Bahasa merupakan (1) sistem yang terstruktur, (2) sistem bunyi yang bersifat manasuka, serta (3) sarana komunikasi antarpribadi. Aspek kebahasaan yang harus dipahami dan diperhatikan oleh penerjemah antara lain adalah bentuk (bunyi, tulisan, dan struktur), makna, fungsi, dan ragam bahasa. Hierarki satuan bahasaadalah kalimat, klausa, frase, kata, dan morfem. Makna dapat dilihat dari segi hubungan dengan kata lain (leksikal, gramatikal, kontekstual, dan sosiokultural) serta dari segi asalnya (primer atau referensial dan sekunder atau konotatif). Fungsi bahasa dapat digolongkan menjadi (1) ekspresif, (2) informatif, (3) vokatif, (4) estetik, (5) fatis, serta (6) metalingual. Ragam bahasa adalah perbedaan yang ada dalam penggunaan suatu bahasa yang bisa bersumber dari variasi internal maupun eksternal. Ada empat istilah untuk menunjukkan keragaman bahasa, yaitu (1) dialek, (2) laras, (3) gaya, dan (4) idiolek. Gaya bahasa dapat dibagi menjadi lima, yaitu ragam beku, resmi, operasional, santai, dan akrab. Pembagian ragam juga dapat dilakukan menurut ragam baku (dengan ciri kemantapan dinamis dan kecendikiaan) dan tak baku.
Proses penerjemahan terdiri dari tiga tahap, yaitu (1) analisis, (2) pengalihan, dan (3) penyerasian, yang masing-masing dapat diulangi untuk lebih memahami isi teks. Analisis dilakukan untuk memahami (1) maksud penulisan, (2) cara atau gaya penyampaian, serta (3) pemilihan satuan bahasa. Pengalihan dilakukan untuk menggantikan unsur TSu dengan TSa yang sepadan baik bentuk maupun isinya dengan mengingat bahwa kesepadanan bukanlah kesamaan. Penyerasian dilakukan untuk penyesuaian hasil terjemahan dengan kaidah dan peristilahan dalam bahasa sasaran. Dalam analisis dan pengalihan, dapat dimanfaatkan konstruk konteksi situasi yang terdiri dari tiga unsur: bidang (field), suasana atau nada (tenor), dan cara (mode). Setelah analisis, seorang penerjemah harus memilih orientasi ke bahasa sumber (BSu) atau bahasa sasaran (BSa) dengan mempertimbangkan (1) maksud penerjemahan, (2) pembaca, (3) jenis teks, serta (4) kesenjangan waktu.
Metode penerjemahan adalah cara melakukan penerjemahan menurut suatu rencana tertentu. Ada delapan metode penerjemahan, yaitu (1) kata-demi-kata, (2) harfiah, (3) setia, (4) semantis, (5) adaptasi, (6) bebas, (7) idiomatik, (8) komunikatif. Metode semantis dan komunikatif sering dianggap paling memenuhi tujuan ketepatan dan efisiensi dalam penerjemahan.
Prosedur dan metode penerjemahan dibedakan menurut satuan penerapannya: Metode pada keseluruhan teks sedangkan prosedur pada satuan bahasa seperti kalimat, klausa, frase, dan kata. Lima prosedur penerjemahan terpenting adalah (1) transposisi, (2) modulasi, (3) adaptasi, (4) pemadanan berkonteks, dan (5) pemadanan bercatatan. Transposisi atau pergeseran bentuk adalah pengubahan bentuk gramatikal dari BSu ke BSa yang dibagi menjadi empat jenis, yaitu (1) wajib dan otomatis, (2) penyesuaian struktur gramatika, (3) pewajaran ungkapan, serta (4) pengisian kesenjangan leksikal. Modulasi atau pergeseran makna adalah pergeseran struktur yang juga menyebabkan perubahan perspektif, sudut pandang, atau segi maknawi lain yang dibagi menjadi (1) wajib, yang dilakukan apabila suatu kata, frase, atau struktur tidak ada padanannya dalam BSa, serta (2) bebas, yang dilakukan karena alasan nonlinguistik. Adaptasi adalah pengupayaan padanan kultural antara dua situasi tertentu. Pemadanan berkonteks adalah pemberian suatu informasi dalam konteks sehingga maknanya jelas. Pemadanan bercatatan adalah pemberian catatan untuk hal yang tak bisa ditangani oleh prosedur-prosedur lain.
Teknik penerjemahan adalah hal-hal praktis, berbeda dengan metode dan prosedur yang kurang lebih normatif, yang langsung berkaitan dengan langkah praktis dan pemecahan masalah dalam penerjemahan. Masalah praktis ini terkait dengan berbagai masalah kebahasaan antara lain (1) fungsi teks, (2) gaya bahasa, (3) ragam fungsional, (4) dialek, serta (5) masalah khusus yang perlu penanganan praktis seperti idiom dan metafora.
Kesepadanan adalah hal utama yang harus diperhatikan dalam penerjemahan. Pergeseran yang terjadi dalam proses penerjemahan karena metode, prosedur, dan/atau teknik yang diterapkan harus menjamin (1) fungsi dan maksud umum teks tidak berubah, serta (2) makna referensial TSu dipertahankan dalam TSa. Ketaksaan, teks yang tidak runtut, serta unsur yang meragukan harus dikenali dengan jeli dan diputuskan oleh penerjemah.
Penilaian terjemahan dilakukan terhadap produk dan bukan proses. Dalam penilaian terjemahan, yang perlu dipahami adalah (1) segi dan aspek penilaian, (2) kriteria penilaian, serta (3) cara penilaian. Segi dan aspek penilaian bisa dilihat antara lain dari (1) ketepatan (linguistik, semantik, pragmatik), (2) kewajaran ungkapan, (3) peristilahan, dan (4) ejaan. Kriteria penilaian ditetapkan terhadap masing-masing segi atau aspek penilaian baik secara positif maupun secara negatif. Cara penilaian terbagi dua, yaitu cara umum (relatif dapat diterapkan pada segala jenis terjemahan) dan cara khusus (untuk jenis teks khusus seperti teks bidang hukum atau puisi). Pada akhirnya, penilaian terjemahan dilakukan terhadap ada tidaknya serta besarnya penyimpangan makna referensial yang terjadi.

Penutup

Buku terbitan Penerbit Kaifa (Mizan) setebal 252 halaman ini sangat bermanfaat bagi para penerjemah; bekal bagi penerjemah pemula dan pengingat bagi penerjemah kawakan. Hampir semua aspek penerjemahan dimuat secara terstruktur dengan bahasa yang cukup mudah untuk dipahami. Harga eceran Rp39.500 yang ditetapkan untuk buku ini adalah investasi yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan penerjemah dan memperbaiki kualitas terjemahannya.
Penulis: Ivan Lanin.
Advertisements

Cara membaca Permen dan Permen Gula Manis

Permen (Peraturan Menteri) dan Permen (gula manis)‘Permen’ diucapkan berbeda dengan ‘Permen”Permen’ (Peraturan Menteri) semua huruf [e] dibaca seperti dalam kata ’emas’, ‘beras’, ‘enam’ atau disebut e pepet.

‘Permen’ (gula manis) huruf [e] pertama dibaca e pepet, dan huruf [e] kedua dibaca seperti dalam kata ‘eja’, ‘era’, ‘bela’.

salam permen!

 

Sandwich itu Roti Lalab

Snack = Kudapan
Sandwich = roti lalab

Kata ‘snack’ berasal dari kurun era Middle Dutch = Snacken
‘Snack’ memang sesuatu yang disambar dengan tergesa-gesa karena pada kurun masa itu.

Kata ‘sandwich’, yang sekarang merupakan salah satu pilihan sarapan orang kota, berasal dari nama orang, bahkan bukan sembarang orang. Dia adalah seorang berkebangsaan Inggris bernama asli John Montagu dan bergelar Earl of Sandwich IV (1718-92).

sumber: word origins, websters dan berbagai kamus

Kerancuan Pengguna Bahasa Indonesia!

1. Klinik Gigi bukan Poli Gigi

Setiap kali kita pergi ke poliklinik dapat dipastikan menemukan tulisan poli gigi, poli anak, poli jantung dan kawannya. Pengguna Bahasa Indonesia di dunia medis ini sangat rancu dalam menggunakan istilah ‘poli’. Poli yang merupakan prefiks, berasal dari Bahasa Inggris  poly- berarti banyak. Untuk seseorang memiliki banyak istri dinamakan poligami, untuk suatu kata yang memiliki banyak arti/makna disebut polisemi. Nah, apakah ‘Poli Gigi’ bisa diartikan banyak gigi?

2. Sidang Isbat atau Sidang Penentuan 1 Syawal

Di Bulan Ramadan, umat Islam diwajibkan berpuasa dan tiap tanggal 1 Syawal kita mengakhiri puasa kita dan melaksanakan Salat Idul Fitri. Tidak jarang kita menemukan tulisan “…Sidang Isbat Penentuan 1 Syawal…” Menurut KBBI IV tahun 2008, kata ‘isbat’ berarti ‘penentuan/ penetapan’. Jadi, kita cukup bilang “Sidang Isbat 1 Syawal…” tanpa mengulang kata yang sama. Gejala pengulangan kata mubazir ini disebut Pleonasme.

3. Kronologis atau Kronologi

Coba kita ketik di mesin pencari bernama Google tulisan ‘kronologis’, pasti banyak judul-judul artikel tentang kejadian atau peristiwa yang dilaporkan dalam berita. Namun penggunaan kata ‘kronologis’ kurang tepat contoh berikut:

“Berikut kronologis meninggalnya Wamen ESDM…” (Okezone)

“Kronologis Pencatatan Saham” (bni.co.id)

“Inilah Kronologis Lengkap Pemicu Tragedi Rohingya” (luar-negeri.kompasiana.com)

“Kronologis Penembakan di Bioskop Aurora Colorado” (metrotv)

Nah, dalam KBBI edisi keempat tahun 2008, kronologi merupakan kata benda yang berarti urutan waktu dari suatu kejadian atau peristiwa. Sementara, kata kronologis adalah kata sifat.

4. Imbau bukan Himbau

Coba kita klik tautan berikut! http://pa3rt02.wordpress.com/2009/06/14/himbauan-lurah-mangsang/
Masalah penggunaan kata ‘Himbau’ lebih populer ketimbang kata ‘Imbau’. Ini sering terjadi di dunia pemerintah dalam membuat surat edaran berupa ajakan. Padahal, sesuai dengan KBBI IV 2008, seharusnya menggunakan Imbau bukan Himbau.


5. Kasa, Kassa, Kasir

Pastinya kita pernah mengunjungi pasar swalayan atau toko serba ada (toserba) seperti Matahari Department Store. Ketika kita ingin melakukan pembayaran, terpampang besar tulisan ‘Kassa’. Padahal, yang benar menurut KBBI IV tahun 2008 ialah ‘Kasa’ dengan satu huruf ‘s’ atau bisa dengan tulisan ‘kasir’.

6. Inval Bukan Infal

INVAL berarti PRT (Pembantu Rumah Tangga) Pengganti/ Sementara/Pekerja Cadangan. Asal kata ini adalah “invaller” dari Bahasa Belanda. Menurut Kamus Bahasa Belanda-Inggris, kata invaller (de) berarti  substitute, replacement, person or thing that takes the place of another atau pengganti/ orang pengganti. Saya menyarankan Pusat Bahasa yang menyusun KBBI untuk memasukkan lema Inval ke dalam KBBI edisi kelima tahun 2013.