Inilah Beberapa Arti Kata “Terpapar”

Sejumlah Judul Artikel dengan Kata “Terpapar” 

Berselancar di dunia maya melalui mesin pencarian mbah Google, tetikus saya arahkan ke kolom pencarian, lalu menulis kata “terpapar”, lantas tekan tombol masuk di papan ketik. Alhasil, lema “terpapar” ada dalam ranah kesehatan, semisal “terpapar virus” atau “terpapar radiasi” dalam kalimat, Radiasi sinar ultraviolet akibat terpapar sinar matahari. Linimasa di media sosial pun ramai mewartakan bencana asap di Sumatera dan Kalimantan dengan korban dan penyintas yang “terpapar” asap.

Saya simak berita pagi satu televisi swasta dengan kalimat bertuliskan Warga memakai masker akibat terpapar abu vulkanik Rinjani, dan saya temukan judul artikel di Kompas 29 Oktober 2015, dengan tulisan “Korban Terpapar Cuaca…”.

Lantas, apa arti kata “terpapar” itu?

Dalam leksikografi bahasa Indonesia, kata ini berasal dari kata “papar” kelas verba yang direkam menjadi 3 lema berpolisemi dalam KBBI 2008.

Pertama…

“Papar” pertama berarti papak (tidak lancip), rata (untuk gigi), pesek/tidak mancung (untuk hidung), serta bagian belakang/punggung (untuk pisau, pedang). Dalam istilah geografi, kata “papar” dengan sufiks -an menjadi “paparan” merujuk pada dasar laut yang datar dan dangkal, seperti paparan benua.

Kedua…

Arti kedua “papar” atau “memapar” merupakan kegiatan menguraikan panjang lebar atau menjelasakan rinci yang akhirnya menjadi sebuah “paparan” berupa hasil penjelasan atau uraian yang dipaparkan oleh seorang “pemapar” melalui proses atau cara disebut “pemaparan”.

Ketiga…

“Papar” atau “memapar” arti ketiga terkait mencari orang untuk dijadikan kelasi (prajurit) dengan “pemaparan” yang merupakan sebuah proses, cara dan perbuatan memapar atau mencari prajurit.

Sinonim Kata “Terpapar”

Tesaurus Bahasa Indonesia karya munsyi Eko Endarmoko 2006, mencatat 2 lema “papar”.

Pertama, “papar”, “memaparkan” bersinonim dengan membeberkan, membentangan, memerikan, mencuraikan, mengagak-agihkan, mengelaborasikan, menggambarkan, menghamparkan, menguraikan, menjelaskan serta mensyarahkan.

Di lema kedua, muradif “papar” ialah dempak, guntung, leper, papak, pepat, repang; rata (gigi), penyek, pipih; demes, pesek (hidung).

Kateglo.com, situs tentang kamus, tesaurus dan glosarium bahasa Indonesia, merekam satu kata “terpapar” dalam glosarium, yakni ”rasio ginjal terpapar” diterjemahkan menjadi “exposure-odd ratio” untuk bidang kedokteran hewan dengan sumber Pusba (Pusat Bahasa).

Menerka Arti Kata “Terpapar”

Nah, jika menerka arti kata “terpapar” dalam temuan teks tersebut, maka “terpapar” cenderung bermakna “terkena” atau “terserang”. Sehingga dalam kalimat Warga memakai masker akibat terpapar abu vulkanik Rinjani bermakna bahwa warga terkena abu vulkanik Rinjani maka mereka memakai masker.

Kata “Terpapar” Bidang Kesehatan/Kedokteran

Namun, penelitian yang dimuat dalam jurnal Science Translational Medicine (15 November 2015),  menunjukan bahwa bayi yang kurang terpapar bakteri tertentu berisiko asma. Artinya, bahwa bayi yang kurang memiliki bakteri “baik” tertentu dalam usus halusnya dalam bulan-bulan pertama setelah lahir mungkin berisiko lebih tinggi terkena asma.

Kata “terpapar” ini dapat bermakna memiliki. Kata “terpapar”, beda dengan “terjangkit”, di bidang kesehatan, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi affected atau exposed seperti Childhood asthma risk affected by bacteria in early infancy. Sementara itu, berita dalam jaringan (daring/ online) koran nasional, berjudul “Jokowi Berkantor di Wilayah Terpapar Kabut Asap Hingga Sabtu” (29 Oktober 2015). Lema “terpapar” dalam konteks ini bisa mengacu pada makna “terdampak”.

Masukan untuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

Bilamana demikian, kata “terpapar” telah meluas maknanya, atau malahan kita memang telah salah kaprah menggunakan kata ini. Niscaya, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi berikut dapat menambah satu lema “terpapar” (hal positif) di bidang kesehatan/ kedokteran dan satu lema “terpapar” di bidang bencana.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/ridwan-arifinjazz/inilah-beberapa-arti-kata-terpapar_564a64c02323bd210e64ab45

Advertisements

Asal Usul Nama Tempat dan Nama Diri di Bali

Toponimi di Bali

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia IV tahun 2008:

Toponimi = Cabang onomastika yang menyelidiki nama tempat.

Onomastika = Penyelidikan tentang asal-usul, bentuk dan makna dari nama diri, terutama nama orang dan        tempat.

Kali ini, saya mencoba mengungkap asal usul nama tempat dan nama diri di Bali melalui observasi langsung, penelusuran kepada sumber (wawancara), serta studi literatur/ kajian pustaka. Walaupun demikian, masih banyak nama atau kata yang masih perlu diteliti dan diungkapkan asal usulnya.

Memang tidak mudah untuk menelusuri asal usul kata dan nama tempat suatu daerah. Tetapi saya mecoba menyajikannya semaksimal mungkin dengan pendekatan ilmiah. Berikut beberapa toponimi yang berhasil saya rangkum:

  1. Bali => Balidwipa = bali = banten = sesajen, persembahan, sesaji. Dwipa = pulau (sanskerta)
  1. Kuta => Tempat berlindung (KBBI IV, 2008). “Kuta” berarti benteng. Nama pantai ini diberikan oleh Gajah Mada ketika melabuhkan perahu-perahunya pertama kali untuk invasi ke Bali pada saat Bali dikuasai Raja Mengwi abad ke-18, yang dahulu dinamakan Kuta Nimba. Nimba berarti alas atau hutan.
  1. Legian => Berasal dari bahasa Jawa Kuno “Legi” yang berarti manis. Dahulu, namanya Karang Kemanisan. Karang bermakna desa. Dalam kalender Jawa, ada hari bernama Legi, begitu juga di kalender Bali.
  1. Jimbaran => “Jimbar” yang berarti hamparan luas. Letaknya di pesisir pantai barat Bali. Sekarang menjadi pusat makanan laut terkenal di Bali, dengan restoran makanan laut di tepi pantai Jimbaran yang terhampar luas.
  1. Uluwatu =>”Ulu” berarti puncak, ujung, atas dan “Watu” berarti batu (Sansekerta). Artinya, sebuah pura yang berada di puncak atau di atas batu. Lokasinya di Bali Selatan, tepatnya di Desa Pecatu, di atas karang dan menghadap langsung laut selatan Indonesia.
  1. Sanur => “Saha” dan “Nuhur”, bermakna memohon datang ke suatu tempat atau semangat untuk mengunjungi suatu tempat. Konon, Sanur merupakan suatu tempat pencarian perdamaian dan penempatan spiritualitas. Pantai Sanur merupakan Sunrise Beach atau pantai matahari terbit yang terletak di sisi timur garis pantai Bali.
  1. Bendega => nelayan. Menjadi nama restoran makanan laut di Jimbaran.
  1. Jukung => perahu nelayan. Merupakan perahu kayu tradisional nelayan Bali dengan penyeimbang di kanan dan kiri perahu ini.

Continue reading “Asal Usul Nama Tempat dan Nama Diri di Bali”

SBY Pidato, Ada 3 Kata Keliru

Konvensi capres PD resmi ditutup. Ketua Umum Partai Demokrat (PD) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pun menyampaikan pidato politiknya menanggapi hasil konvensi capres PD tanggal 16 Mei 2014 pukul 17.00 WIB.

Dalam pidato tersebut, saya memang menyaksikan dan mencatat 3 kata “Keliru” dalam Pidato bapak SBY sebagai berikut:

1. Amplifikasi

Kata ini diucapkan 2 kali selama pidato tersebut.

(… konvensi dan juga diamplifikasi media massa…)

Kata “amplifikasi” tersua dalam KBBI IV 2008, namun terjadi kesalahan pemilihan diksi.
“Amplifikasi” bukan sebagai kata kerja melainkan kata benda.
“Amplifikasi” adalah pembesaran, perluasan, atau pengembangan (tentang jumlah, kepentingan, dsb)
Namun, sebaiknya gunakan kata menyebarluaskan, mewartakan dsb.

2. Miskalkulasi 

Kalimatnya ialah, “…diambil dengan perhitungan cermat. Apabila melakukan yang saya sebut miskalkulasi…”

Kata ini bukan Bahasa Indonesia. Sebaiknya dengan istilah salah perhitungan atausalah kalkulasi

3. Kapabilitas

Berikut penggalan kalimatnya, “…peserta konvensi PD memiliki kapabilitas, visi,..”
“kapabilitas” bukan Bahasa Indonesia. Kata ini dapat diganti dengan katakemampuan, kecakapan, kesanggupan dsb. yang lebih bahasa Indonesia.

Belum lagi penggunaan bahasa Inggris yang dicampur aduk dengan bahasa Indonesia yang sempat saya catat seperti berikut:

“…negeri ini juga mempunyai policy maker ataupun leader untuk…”

Padahal, istilah ini bisa diucapkan dalam bahasa Indonesia seperti pembuat kebijakan ataupun pemimpin.

Selain itu, terdapat pula kalimat “… tak memungkiri elektabilitas sebelas peserta…”, alih-alih diterjemahkan menjadi tingkat/daya keterpilihan.

Setali tiga uang, berikut penggalan kalimat lain yang kuminggris: “…ada waktu untuk menentukan posisi. Ada advantages dan disadvatages…”. Mengapa tidak diucapkan dengan “keuntungan” dan “kerugian”?

Bagaimana dengan kalimat ini? “…jelas betul platformnya termasuk…”

Republika menyebutnya bahasa Gado-Gado, http://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/14/03/11/n29dgx-ini-bahasa-gadogado-yang-digunakan-sby

Mungkin tak hanya bapak SBY, tapi juga menjadi perhatian bagi para politisi, pengamat bahkan media televisi serta masyarakat termasuk saya.

Salam takzim!

Asal Mula Kata “SODOMI”, the Origin of Sodomy

Kata “sodomi” menjadi tak asing di telinga orang Indonesia. Bahkan para orang tua yang memiliki anak yang masih duduk di TK dan SD semakin khawatir karena maraknya kasus penyimpangan seksual.

Kasus sodomi di Jakarta International School (JIS) yang telah terungkap akhir-akhir ini, merupakan suatu pelajaran buat para orang tua. Parahnya, JIS sering dipelesetkan menjadi Jakarta International Sodomy.

Tahukah Anda arti “Sodomi”?

KBBI IV mencatat:

so·do·mi n 1 pencabulan dng sesama jenis kelamin atau dng binatang; 2 sanggama antarmanusia secara oral atau anal, biasanya antarpria; semburit;
me·nyo·do·mi v menyetubuhi melalui anal atau anus: pelaku kejahatan itu mengaku telah – korbannya sehingga mengakibatkan kerusakan pd lubang pelepasan;
pe·nyo·do·mi n orang yg melakukan sodomi: dua tersangka – thd bocah jalanan telah ditangkap polisi

 

Apa bahasa Inggrisnya?

yakni, SODOMY

a sexual act in which a man puts his penis in somebody’s, especially another man’s, anus (Oxford University Press, 2010)
Asal katanya, SODOMIA dari bahasa Latin, diambil dari istilah peccatum Sodomiticum yang berarti “Sin of Sodom” atau dosa dari bangsa Sodom. Sejarahnya, pada saat itu pria-pria bangsa Sodom melakukan hubungan seks sejenis atau homosexsual rape.
“Sodomi” dalam Bahasa lain
Dalam bahasa Belanda dikenal “Sodomie” dan dalam bahasa Portugal disebut “Sodomia”.

 

Glossophilia, Gila Bahasa

GLOSSOPHILIA, apa artinya?

Glossophilia = Love of a Language (Gila Bahasa)

The term refers to people with a deep and passionate love for language and
the structure of language. Glossophiles often study deeply literary terminology as wellas grammar, punctuation and language structure. It is often the case that a deep interest in lexical choice and imagery is common.

Glossophiles also dedicate themselves to the learning of foreign languages and intensely study as many languages as possible. It is not uncommon for glossophiles to be proficient in many languages.

Glossophilia = orang yang menyukai/mencintai bahasa, punya perhatian penuh terhadap bahasa, struktur bahasa, leksikal dsb. yang berkaitan seputar kebahasaan plus yang berdedikasi mempelajari bahasa asing bahkan sebanyak mungkin bahasa asing lainnya.

http://en.wikipedia.org/wiki/Glossophilia

Bandara Kuala Namu: Arti Kata ‘Kuala’

KUALA

Bandar Udara Internasional Kuala Namu yang terletak di Deli Serdang, Sumatera Utara dan memiliki banyak fasilitas baru, secara resmi mulai dioperasikan pada Kamis, 25 Juli 2013.

Pemilihan nama bandara ini berdasarkan masukan dari para tokoh adat dan tokoh masyarakat Karo. Kemudian nama tersebut dibahas dan diusulkan oleh Pemprov dan DPRD yang selanjutnya ditetapkan oleh Menteri Perhubungan. Dalam bahasa Inggris bandara ini bernama Kuala Namu International Airport atau disingkat KNIA.

bandara kuala namu bandara-kuala-namu

Asal Kata KUALA

Kata ‘Kuala’ berasal dari bahasa Melayu yang berarti muara sungai atau pertemuan sungai dengan laut. Sementara ‘Namu’ atau ‘Namo’ berasal dari bahasa Karo yang berarti lubuk. Kuala Namo atau Kuala Namu merupakan kombinasi bahasa dua suku asli Sumtim yang sesuai dengan segi bahasa dua etnis asli penduduk daerah setempat. Jadi, Kuala Namu ialah tempat bertemu.

Bahasa Melayu memilki cakupan penutur yang banyak dan wilayah yang luas: Nusantara dan Semenanjung Malaya. Di Indonesia bahasa Melayu terdiri dari beberapa varian dan dialek mulai dari Aceh, Palembang, Riau, Jambi, Deli, Minangkabau hingga Banjar Kalimantan. Di negara lain, bahasa Melayu pun dipakai di Malaysia, Singapura, Brunei sampai ke selatan Thailand.

bandara-kuala-namu-130708-b

Kembali ke laptop, dalam KBBI IV, 2008, kata ‘Kuala’ memiliki arti tempat pertemuan sungai dengan sungai atau sungai dengan laut; muara sungai; muara bersama-sama dari beberapa aliran menjadi satu. Di Indonesia, penggunaan kata ‘Kuala’ pun tidak sedikit semisal Universitas Syiah Kuala di Aceh, Pelabuhan Kuala Tungkal di Jambi, serta bahasa Banjar di Kalimantan yang terdiri dari 3 komunitas besar yakni Banjar Kuala, Banjar Pahuluan dan bahasa Melayu yang memiliki bermacam dialek pemakaiannya seperti Barito Kuala.

Kata Kuala di Negara Lain

Kata ‘Kuala’ pada ibukota negara Malaysia Kuala Lumpur, juga memiliki arti pertemuan dua sungai: Gombak dan Klang. Sementara ‘Lumpur’ berarti tanah lunak, tanah becek dan kotor. Jadi, Kuala Lumpur ialah pertemuan dua sungai yang berlumpur. Dalam bahasa Melayu, ‘Kuala’ biasanya pertemuan antara sungai yang lebih kecil ukurannya bertemu dengan sungai besar. Selain Kuala Lumpur, daerah di Negeri Kedah malaysia pun bernama Kuala Nerang, pertemuan antara dua sungai yaitu Sungai Pedu dan Sungai Ahning. Setali tiga uang, di Brunei juga terdapat kota bernama Kuala Belait, kota terbesar kedua setelah Bandar Seri Begawan yang juga pertemuan dua sungai.

Kesimpulan

Di Indonesia, bandara internasional besar didominasi dengan nama pahlawan di daerah tersebut di antaranya Soekarno-Hatta, Juanda, Ngurah Rai, Adi Sucipto, Adi Sumarmo. Tak ayal jika ada nama bandara di Indonesia berdasar nama atau istilah daerahnya seperti Bandara Sepinggan di Balikpapan yang berarti ‘piring’ atau ‘sepiring’ dan bandara Polonia (sebelum bandara Kuala Namu) yang berarti Polandia. Mungkinkah KNIA ada kemiripan dengan KLIA (Kuala Lumpur International Airport) di Malaysia?

sumber foto: detik dan antara

Arti Kata ‘Yudisium’

Apa Arti YUDISIUM?

Yudisium (KBBI IV, 2008) = penentuan nilai (lulus) suatu ujian sarjana lengkap (di perguruan tinggi).

Jadi, Yudisium adalah suatu keputusan di mana seorang mahasiswa itu dinyatakan telah memenuhi syarat dari berbagai macam persyaratan seperti: persyaratan akademik dan administrasi yang diwajibkan / telah lunas semuanya , sehingga nantinya secara sah anda dinyatakan “LULUS”.

Yudisium berasal dari bahasa Latin ‘Judicium’ yang diserap ke dalam bahasa Inggris menjadi ‘Judgment’.

salam takzim!